AJI Latih Puluhan Jurnalis Perdalam Isu Perlindungan Sosial

Laporan:
Yoseph E Ikanubun (Ketua AJI Manado) dari Jakarta

ALIANSI Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, menyelenggarakan rangkaian Workshop Pengembangan Kapasitas Jurnalis Terkait Isu Perlindungan Sosial.  Pelatihan ini digelar  Rabu (6/5) di Hotel  Morrissey, Jalan Wahid Hasyim, Menteng Jakarta.

Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono mengatakan, untuk mengawali kegiatan itu pihaknya mengadakan sebuah forum diskusi yang melibatkan kalangan editor media baik dari Jakarta maupun daerah-daerah.

“Tujuannya adalah mendapatkan masukan dari kalangan editor tentang bagaimana isu perlindungan sosial bisa mendapatkan ruang yang seimbang dalam newsroom, baik tentang manfaat maupun keterbatasan konsep perlindungan sosial itu sendiri,” papar Suwarjono didampingi Sekjen AJI Arfi Bambani.

Menurut Suwarjono yang juga Pemred Swara.co ini, setelah pelaksanaan workshop untuk para editor maka akan dilanjutkan dengan pelatihan untuk para jurnalis dari seluruh Indonesia yang diadakan di dua kota yakni Yogyakarta dan Medan. “Akan ada puluhan jurnalis dari berbagai daerah yang akan mengiktui pelatihan di Yogyakarta dan Medan. Untuk mendalami isu-isu perlindungan sosial,” papar Suwarjono.

Lanjut dia, melalui rangkaian kegiatan itu diharapkan dapat memberikan kontribusi  besar bagi pengembangan kapasitas jurnalis serta peran media dalam membangun kesadaran masyarakat tentang bantuan sosial dan mendorong advokasi untuk agenda nasional yang progresif.

Dalam kegiatan kemarin, Pemred Merdeka.com, Didiek Supriyanto mengatakan, selama ini liputan-liputan para jurnalis terkait bantuan dan dana perlindungan sosial belum terlalu mendalam. “Selama ini misalnya kita hanya kaitkan dengan momentum politik, atau ricuh saat pembagian bantuan langsung tunai misalnya. Padahal kita harus lebih dalam melakukan liputan itu,” papar Didiek, salah satu pendiri detik.com.

Mantan Sekjen AJI Indonesia ini menambahkan, liputan yang mendalam misalnya dengan melakukan analisa terhadap berbagai data warga miskin maupun alokasi anggaran, melakukan pemantauan sejauh mana potensi dana itu dikorupsi, hingga membuat perbandingan bagaimana kondisi warga sebelum dan sesudah menerima bantuan sosial setelah beberapa waktu kemudian. “Dari situ kita akan bisa mendapatkan suatu liputan yang komprehensif soal sejauh mana efektivitas dana bantuan sosial bagi warga miskin,” papar Didiek.

Sejumlah editor dan pemimpin media hadir dalam workshop itu seperti, Eko Maryadi (Presiden SEAPA), Atik Nurbaeti (The Jakarta Post), Asep Saeffulah (Sindo Wekly). Sedangkan dari daerah hadir Wapemred Harian Fajar Makassar, M Yussuf, serta Yoseph E Ikanubun, Redaktur Harian METRO, Heryanto Sagiya dari Pontianak Post, serta sejumlah editor lainnya.

Posted in Berita.